BUBUR AYAM SPESIAL

BUBUR AYAM SPESIAL
By : Abu Zuhra

Siapa yang tidak kenal dengan makanan yang satu ini. Hampir di tiap kota di negeri ini ada jenis makanan ini. Bubur ayam Cirebon, Sukabumi, Manado, Bandung, Betawi dan yang terakhir yang paling unik adalah Bubur Ayam Thailand. Ya, saya pernah makan bubur Ayam Thailand, rasanya sama seperti bubur ayam yang banyak di jual di Jakarta. Saya penasaran dan untuk membayar rasa penasaran itu, saya beranikan diri untuk bertanya kepada penjualnya perihal kebenaran bahwa di Thailand memang ada bubur ayam sama seperti di Indonesia. Dengan tersipu penjualnya menjawab bahwa bubur ayam Thailand itu hanya dibuat dari beras Thailand, tapi mengenai di Thailand ada bubur ayam atau tidak, dia tidak tahu karena belum pernah ke Thailand. Ada-ada aja ya…

Bubur ayam termasuk makanan favorite saya, terutama saat sarapan. Tapi bukan bubur ayam yang ingin saya tulis. Ada hikmah yang dahsyat di balik bubur ayam. Dan hikmah inilah yang sering diulang-ulang oleh KH. Abdullah Gymnastiar dalam setiap ceramahnya. “Bila nasi sudah menjadi bubur… tinggal tambahkan saja kecap, cakwe, kacang kedelai, potongan daging ayam… jadilah bubur ayam spesial ! Betul tidak ?” Artinya bila kita mendapatkan hal yang tidak kita harapkan, musibah misalnya, kita tetap dapat menikmati musibah itu dengan menambah bumbu-bumbu positif. Kita dapat mencari berjuta bumbu (alasan) agar kita tetap terus berfikir positif kepada Allah swt. Dan musibah itu sejatinya tetap suatu hal yang bukan saja hal yang harus kita lalui atau jalani, melainkan dapat kita nikmati. Itulah hikmah bubur ayam spesial.

Hal seperti diatas pun sering diungkapkan dengan bahasa yang berbeda oleh seorang ustadz muda dan cerdas, ust. Reza M. Syarief. Dengan bahasanya beliau mengungkapkan “We Can’t Change The Wind Direction but We Can Change The Wings Direction”, kita tidak dapat merubah arah angin, tapi kita dapat merubah arah sayap. Kita memang tidak dapat merubah takdir kita (hidup, mati, jodoh dan rejeki) tapi kita masih dapat untuk merubah paradigma berfikir kita, kita dapat mengkondisikan hati dan pikiran kita terhadap apa yang telah ditakdirkan untuk kita. Oleh karenanya pameo yang berkembang “hidup itu bagaikan air yang mengalir” perlu dikritisi. Itu benar tapi masih besar kemungkinan salahnya. Itu sikap tawakkal “kebablasan”. Seorang Muslim itu jangan hanya hidup bagaikan air yang mengalir tapi bagaimana kita dapat membendung, membuat jalan, anak sungai atau kanal agar air yang mengalir dapat berjalan sesuai dengan keinginan kita. Artinya hidup kita sudah terencana. Bukan bagaimana nanti melainkan nanti bagaimana.

Itulah makanya banyak generasi muda yang concern dengan bagaimana membuat ummat terus semangat, agar bangkit dari keterpurukkan, agar mengerti bahwa Allah swt tidak mungkin memberikan kepada kita sesuatu tanpa maksud, memberikan sesuatu yang sia-sia kepada kita, atau Allah menciptakan kita dan memberikan kepada kita fasilitas di bumi ini (maaf) hanya iseng saja. Tidak ! Allah pasti memiliki maksud, tujuan dan kehendak Nya karena ke Maha Tahu an dan Maha Bijaksanaanya. Bahkan bisa jadi Allah swt memberikan kita sesuatu yang mungkin tidak kita suka, atau bahkan kita sangat membencinya, tapi yakinlah bahwa itu adalah yang terbaik yang Allah swt berikan untuk kita (baca lagi Karena Allah Cinta)

Ada KH. Abdullah Gymnastiar dengan Manajemen Qolbu, ada Ust. Yusuf Mansur dengan Wisata Hati, ada Ust. Quraish Shihab dengan Lentera Hati dan ada Ust. Dadang Holiyulloh dengan Manasik Hatinya dan masih banyak lagi. Saya belajar dari mereka tentang pentingnya menjaga hati, pentingnya memprakondisikan hati ketika ingin melakukan kebaikan, pentingnya istiqomah agar niat ikhlas tetap terjaga, tidak rusak oleh hal-hal yang dapat merusaknya, pentingnya ilmu yang manfaat untuk kebaikan di dunia dan akhirat kita. Saya belajar dari mereka tentang bagaimana melihat peluang kebaikan, jangan tunggu orang lain yang melakukan kebaikan itu, bila perlu kita yang memulai untuk melakukannya, sesiap apapun kita. Walaupun mungkin apa yang kita terima setelahnya sama sekali di luar dugaan. Bisa jadi tanggapan orang lain terhadap kita adalah meragukan keseriusan, meragukan niat tulus kita, pelecehan, dan yang lebih extreem lagi adalah perlawanan atas apa yang sedang kita upayakan. Dan saya tidak memungkiri bahwa memang hal positif pun akan kita terima dari apa yang kita usahakan itu, seperti dukungan baik berupa doa, waktu, tenaga, dana dan materi serta kemudahan-kemudahan yang ‘tidak masuk akal’ lainnya. Kemudahan yang semoga memang merupakan keberkahan dari Allah… amin.

Apa yang ada di benak kita ketika melihat ada seorang petinggi di suatu sekolah, katakanlah kepala sekolah atau bahkan pemilik sekolah, yang memungut sampah kemudian meletakkannya di tempat sampah ? Atau seorang pemilik sekolah yang memindahkan pot kembang yang cukup besar di parkiran agar kendaraan para tamu dapat parkir dengan nyaman ? Bisa jadi kita akan malu melihat pemandangan itu dan kita merasa tertampar dengan perbuatannya. Bisa jadi kita akan kagum dengan orang itu. Tapi bisa jadi kita akan menganggap orang tersebut “sok pahlawan” atau “cari muka” di hadapan umum agar nampak terlihat kesholehannya. Dan bahkan kita akan berusaha agar kita tampak lebih sholeh darinya dengan melakukan hal-hal extreem lain dan berfikir bagaimana caranya agar orang tersebut menjadi buruk citranya, dan citra kitalah yang terlihat lebih baik dari nya.

Saya sebut saja namanya, KH Abdullah Gymnastiar atau yang kita kenal dengan sebutan Aa’ Gym adalah orang yang memungut sampah dalam komplek Pesantren yang dikelola nya, Darut Tauhid. Dan Aa’ Gym pernah pula menyusun alas kaki jamaah agar rapi dan mudah dikenakan saat akan keluar dari masjid. Pun ust. Yusuf Mansur yang mengangkat beberapa pot kembang yang lumayan besar (dan tentunya berat) agar para tamu memarkirkan kendaraannya lebih nyaman karena tempat parkir terasa lebih luas, tanpa meminta staf/petugas di pesantrennya untuk melakukan hal itu. Bahkan saya pun belajar dari Ust. Abu Rizqy Al Jambary yang tidak komersil atas ilmu yang dimilikinya. Beliau mengajarkan saya cara bekam dan pijat refleksi secara cuma-cuma. Apakah kita pun akan melakukan hal yang sama bila kita berada dalam posisi mereka ? Dari sana saya melihat teladan dari mereka. Belajar tentang dimanapun kita melihat peluang kebaikan, disanalah kita harus menjadi pelopor di dalamnya.

Kebenaran personal atau kelompok itu memang tipis sifatnya. Contohnya adalah dari apa yang mereka lakukan di atas. Bisa jadi kita melihat contoh ustadz-ustadz di atas adalah merupakan suatu bentuk keteladanan, contoh kebaikan. Karena Rasulullah saw saja sebagai Nabi/Rasul Allah, sebagai pemimpin ummat, sebagai kepala negara merangkap kepala pemerintahan, sebagai panglima perang, Beliau saw masih ikut bersama para sahabatnya mencari kayu bakar, memecah batu saat perang parit, menjahit terompah (sandal) nya, Rasulullah saw ikut berperang (saat ini panglima/komandan hanya memerintah tapi tidak terjun ke lapangan), bahkan di suatu riwayat beliau saw menyuapi makan orang yahudi tua dan buta yang selalu mencaci Beliau saw.

Tapi bisa pula kita melihatnya suatu kebodohan dan kesalahan karena mereka bisa memerintahkan staf kebersihan atau petugas yang berwenang untuk melakukan pekerjaan ‘remeh’ semacam itu dan “hari gene” apa-apa mahal kalau bisa dikomersilkan kenapa mesti gratisss…!!. Sekali lagi sangat tergantung dari sudut pandang kita melihatnya, apakah positif atau negatif. Dan kebenaran mutlak hanya ada di tangan Allah swt saja.

Maksud dari tulisan ini adalah agar kita tidak takut untuk memulai sesuatu kebaikan yang mungkin bagi sebagian orang kita akan di cap ‘aneh’ dan beragam komentar lainnya. Yang penting bagi kita adalah tinggal kita menyiapkan niat yang lurus dan mental yang kuat, bila (sangat) perlu persiapan yang matang. Dan bila apa yang kita usahakan itu sudah menjadi “bubur”, sudah terlanjur jalan dengan persiapan seadanya, maka tinggal kita ingat saja ‘bubur ayam spesial’. Bubur usaha kita itu tinggal kita tambahkan bumbu-bumbu agar kita tidak mundur, futhur (patah semangat) atau bahkan (naudzubillahi min dzalik) apatis dan phobia dengan yang namanya kebaikan (baca : dakwah).

Dan izinkan saya dalam penutup tulisan ini untuk menulis motto guru saya, saudara (abang) saya, konsultan saya, sahabat dan juga teladan saya, Ustadz Abu Rizqy Al Jambary yang sangat pas bila dijadikan motto bersama “Be The Best, Do The Best and Allah Will Take Care The Rest”

Dedicated to :

Majelis
Bina Matahati
Bersama Membina Generasi Islami

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: