BEKAL PULANG KAMPUNG

BEKAL PULANG KAMPUNG

Hari Jum’at tepatnya tanggal 26 September 2008 yang lalu, saat pulang kerja, jalur yang saya lewati luar biasa macetnya. Jalur favorite saya, kalimalang, panturanya Jakarta, memang biasa macet, tapi hari itu kalimalang sangat macet, padahal tiada hujan yang biasanya menyebabkan kalimalang sangat macet, tiada kecelakaan penyebab lain kemacetan kalimalang. Ternyata, penyebab kemacetan kali ini adalah jalur ini dipenuh sesakkan oleh para pemudik terutama yang menggunakan sepeda motor.

Para pemudik terlihat sangat seru dengan bekal mereka yang diikat di jok (tempat duduk) belakang, atau digemblog (digendong) pembonceng, ada pula bekal yang dipangku. Ada pemudik yang membawa keluarga dengan 2-3 orang anak yang masih kecil-kecil. Kasihan melihatnya tapi mungkin orangtuanya bingung bila mudik anak-anak ditinggal mau dititipi ke mana atau nanti malah anak-anak mereka tidak terurus. Ada juga pemudik yang dikoordinir dengan mengenakan custom (seragam) tertentu dan bendera sebagai ciri komunitas mereka.

Mereka adalah pemudik, perantau di Jakarta yang ingin berlebaran di kampung halamannya. Mereka sama dalam satu hal, sama-sama membawa bekal. Bekal yang dibawanya menuju kampung halamannya. Bekal itu harus cukup untuk memenuhi kebutuhan selama dalam perjalanan mudik. Tapi bisa jadi bekal itu adalah oleh-oleh hasil keringatnya di Jakarta untuk keluarganya. Bila tidak memiliki bekal yang cukup manalah berani mereka mudik. Apalagi dana yang terbatas, lebih ciut lagi nyali mereka untuk mudik.

Ada beberapa hikmah yang saya dapatkan dalam melihat para pemudik saat itu.

Pertama, Berani dan Fokus

Berani dan fokus, begitulah kira-kira Islam mengajarkan kita hidup di dunia ini. Berani menerjang apapun rintangan di depan kita asalkan fokusnya hanya mencari ridha Allah. Dengan 2 semangat itu saja dijamin kita akan sukses.

Tidak sedikit orang yang gagal karena merasa takut dan tidak fokus. Kita ambil contoh saja para pemudik tersebut. Menurut saya, para pemudik adalah para pemberani dan orang-orang yang fokus. Sifat pemberani memang adalah salah satu pintu menuju kesuksesan. Mereka berani karena mereka sesungguhnya faham atas resiko apa yang akan mereka hadapi dalam perjalanan. Mereka berani karena fokus pada kerinduan terpendam selama 1 tahun di perantauan. Mereka berani karena momen Idul Fitri adalah momen sungkem, meminta maaf atas khilaf mereka kepada orang tua mereka. Mereka fokus pada mencari ridho Allah yang mereka dapati setelah ridho kedua orang tua mereka. Begitu pula ampunan Allah swt pun mereka akan dapatkan setelah ampunan dari kedua orang tua mereka.

Kedua, Sukses

Kata inilah yang sering dicari banyak orang tapi sulit diraih. Mengapa ? Karena definisi sukses itulah yang abstrak, tidak jelas. Ada orang yang merasa sukses hanya setelah berhasil membeli sepeda motor tapi ada yang baru merasa sukses setelah berhasil membeli sebuah pulau. Ada yang merasa sukses hanya setelah naik pangkat, ada pula yang merasa sukses setelah naik haji. Tapi ada pula yang baru merasa sukses setelah berhasil mengangkat harkat hidup banyak orang dari kemiskinan seperti M. Yunus seorang dosen dari Bangladesh, pendiri Grameen Bank misalnya.

Para pemudik pun pasti merasa sukses dengan fikirannya masing-masing sebab bila tidak, mereka tentu tidak memiliki nyali untuk pulang ke kampung halaman. Para pemudik itu sukses, bila tidak mereka tentu tidak memiliki kendaraan atau bekal yang akan dibawanya pulang ke kampung halaman.

Padahal bila kita mau merenung sejenak saja, kita sudah meraih kesuksesan berkali-kali. Istilah kerennya Unstopable Success. Saya mencoba untuk membantu sahabat merenungkan hal-hal di bawah ini :

a. Kita sukses demi mengingat bahwa kita adalah satu dari sekian ratus ribu atau bahkan jutaan sel sperma orang tua kita yang dinyatakan lulus menjadi seorang anak manusia.
b. Kita termasuk sukses dengan kita menjadi karyawan dari sebuah perusahaan besar di saat saudara kita yang lain masih mencari lapangan pekerjaan.
c. Kita termasuk makhluk Allah swt yang sukses dan beruntung serta memiliki harapan masuk surga Nya dengan ke ’Iman’ an dan ke ’Islam’ an kita dari sekian banyaknya orang yang belum ber Iman dan ber Islam (kafir).
d. Kita termasuk sukses karena kita masih sehat dari sekian banyak saudara kita yang kini tengah berbaring sakit.
e. Kita termasuk sukses karena sampai detik ini kita masih hidup dibanding saudara kita yang lain yang telah diwafatkan terlebih dahulu oleh Nya.
f. Dan masih banyak contoh lagi yang lain.

Semoga kesuksesan-kesuksesan itu membuat kita semakin menambah rasa syukur kepada Allah swt atas apa yang telah diberikan Nya, semakin memanfaatkan waktu kita untuk memperbaiki diri, meningkatkan amal ibadah dan amal kebajikan kita serta memanfaatkan waktu yang tersisa ini untuk bertaubat, kembali kepada jalan Nya.

Karena sesungguhnya kesuksesan yang haqiqi adalah ketika kita mendapat ridho Nya, meraih ampunan Nya dan diijinkan untuk memasuki surga Nya. Itu saja, tidak lebih.

Ketiga, Bekal

Bicara masalah bekal, kita lebih sering menyiapkan bekal dalam urusan keduniaan. Bekal untuk pulang kampung saja bisa beberapa tas atau dus kita bawa. Kendaraan yang akan menemani kita mudik dipersiapkan begitu rupa terlebih dahulu bahkan bila perlu dimodifikasi. Atau bagi yang naik kendaraan umum, dana yang dipersiapkan harus cukup hingga tiba kembali di perantauan (rumah). Fisik dan tenaga benar-benar dipersiapkan dengan mengkonsumsi suplemen atau vitamin agar fisik tetap fit.

Jarang sekali (untuk tidak mengatakan tidak sama sekali) kita memikirkan bekal kita untuk akhirat. Kita jarang sekali menjaga fisik kita tetap fit agar kita dapat selalu dalam kondisi segar saat beribadah. Kita jarang melakukan amal-amal kebaikan apalagi amal-amal ibadah kepada Allah sebagai bekal kita nanti. Kita tidak pernah merasa ’malu’ bila bekal yang kita bawa masih sedikit sebagaimana malu nya kita bila kita sedikit atau bahkan sama sekali tidak membawa oleh-oleh (bekal) saat mudik. Kita tidak pernah merasa ’semangat’ dalam menyiapkan bekal untuk akhirat sesemangat kita menyiapkan bekal untuk mudik. Bila untuk mudik saja, bekal yang kita bawa sebanyak-banyak yang dapat kita bawa bila perlu ditambah kirim via paket titipan kilat (pos), mengapa untuk akhirat kita tidak melakukan hal yang sama ?

Apakah kita masih punya nyali bila kita tiba-tiba saja diminta untuk pulang ke kampung akhirat padahal ketiadaan bekal kita di dunia ?

Apakah kita masih punya keberanian untuk mudik ke kampung akhirat bila tanpa persiapan sama sekali, ibadah sedikit, amal pun demikian tapi masih terus bermaksiat kepadaNya ?

Mulai dari sekarang, persiapkan diri kita untuk lebih berani dan lebih fokus dalam meraih kesuksesan haqiqi dengan membawa bekal ilmu yang bermanfaat dan amal-amal kebajikan agar bila di suatu saat nanti tiba giliran kita untuk ’mudik’ kita telah siap.

Dedicated to :

Majelis
Bina Matahati
Bersama Membina Generasi Islami

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: