PEMIMPI PEMIMPIN DAN PEMIMPIN PEMIMPI

PEMIMPI PEMIMPIN DAN PEMIMPIN PEMIMPI

By : Abu Zuhra

Dari Ibnu Umar r.a. berkata: Rasulullah saw bersabda, “Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu akan ditanya mengenai kepemimpinanmu. Imam (Penguasa) adalah pemimpin dan akan ditanya mengenai kepemimpinannya. Seorang laki-laki adalah pemimpin keluarganya dan bertanggung jawab mengenai kepemimpinannya. Istri adalah pemimpin rumah tangga suaminya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Pelayan (buruh) adalah pemeliharaharta majikannya dan akan ditanya mengenai pemeliharaannya. Maka kamu sekalian adalah pemimpin dan masing-masing bertanggung jawab atas kepemimpinannya.” (HR.Bukhari – Muslim)

Pemimpi Pemimpin

Saya adalah seorang pemimpi, yang selalu memimpikan kehadiran seorang pemimpin yang lurus. Seorang pemimpin yang berani dan tegas. Seorang yang lebih mementingkan rakyatnya dari kepentingan diri, keluarga dan kelompoknya. Seorang pemimpin yang penuh kasih saying dan bertanggung jawab. Seorang pemimpin yang tentu saja Islami.

Sudah terlalu sering kita selalu salah dalam memilih pemimpin. Dan mungkin Allah swt berlepas dari kesalahan kita memilih pemimpin. Atau jangan-jangan karena Allah swt memang sudah sangat membenci kita sehingga kita selalu dipimpin oleh orang-orang yang salah ?

Setiap dari kita adalah pemimpin, demikian kata hadits di atas. Setidaknya memimpin diri sendiri. Karena, pemimpin semestinya mampu memimpin diri sendiri sebelum memimpin dan berada di depan orang lain. Namun, belumlah cukup bila hanya jadi pemimpin bagi diri sendiri. Karena pemimpin sesungguhnya tidak diciptakan untuk itu. Ia adalah orang yang memikirkan orang lain, bekerja demi sebuah generasi, berkarya untuk sebaris masa.

Pemimpin sejati yang hadir dalam mimpi saya adalah pemimpin yang dapat melihat
apa yang dibutuhkan manusia dari zaman ke zaman. Bukan mencari keagungan
diri sendiri. Pemimpin sejati ada untuk mengorbankan seluruh realisasi dirinya bagi orang lain. Karenanya, pemimpin besar tak perlu menyusun ribuan tentara, atau
mengumpulkan jutaan barisan pendukung. Ia hanya perlu menundukkan dirinya
sendiri yang satu itu, maka orang lain akan mengikuti.

Dan sekali lagi, saya adalah seorang pemimpi, yang selalu memimpikan kehadiran seorang pemimpin yang Islami.

Rasululullah Muhammad saw

Rasulullah saw adalah pemimpin para pemimpin. Pemimpin yang kepribadiannya sangat menghujam ke dalam sanubari kita. Apa gerangan yang membuat pribadi Rasulullah begitu menghujam di hati kita ? Bahkan mereka yang berada di luar Islam pun sangat mengagumi kepemimpinan beliau saw.

Pertama, Baginda Rasulullah adalah yang pribadi mulia. Beliau memimpin orang lain diawali dengan memimpin dirinya sendiri. Beliau pimpin matanya sehingga tidak melihat apapun yang akan membusukkan hatinya. Kita kadang memimpin mata saja tidak sanggup. Mengapa hati kita menjadi busuk? Karena mata kita tidak bisa kita kendalikan.

Rasulullah memimpin tutur katanya, sehingga tidak pernah beliau bebicara, kecuali kata-kata yang benar, indah, padat dengan makna. Bayangkan, kita berbicara setiap hari ribuan mungkin puluhan ribu kata, tapi mana yang benar? Kadang kita sendiri pun ragu terhadap kata-kata kita.


Rasulullah memimpin keinginannya. Rasulullah memimpin nafsunya sehingga subhanallah… beliau memimpin dirinya sehingga menjadikan mudah memimpin orang lain. Sayang, kita terlalu banyak menginginkan kedudukan, jabatan, kepemimpinan, padahal memimpin diri sendiri saja kita tidak sanggup. Itulah yang menyebabkan seorang pemimpin tersungkur menjadi hina. Tidak pernah ada seorang pemimpin jatuh karena orang lain, seseorang hanya jatuh karena dirinya sendiri.

Oleh karena itu, marilah kita tekadkan sebelum kita memimpin keluarga, memimpin lingkungan, kita harus pimpin diri kita sendiri. Kita tidak akan hancur kecuali oleh karena diri ini tidak sanggup memimpin mata, lisan, hati, dan perilaku.

Kedua, Rasulullah saw memimpin orang lain tidak dengan banyak memerintah /menyuruh atau melarang. Benar kalau suruhan dan larangan itu hanyalah bimbingan dari Allah. Laqodkaana lakum fii rasulillahi uswatun hasanah… Subhanallah, sebaik-baik pemimpin adalah yang memimpin dengan suri tauladan. Orang yang ada di sekitar kita tidak hanya punya telinga, mereka pun memiliki mata, memiliki perhitungan, memiliki pertimbangan, memiliki perasaan. Sehebat apapun yang kita katakan tidak akan pernah berharga, kecuali kalau perbuatan kita seimbang dengan kata-kata. Bagaimana mungkin kita dalam keluarga merindukan anak-anak yang berperilaku lembut jikalau seorang ayah atau seorang ibu berperilaku bengis dan kasar? Bagaimana mungkin kita menginginkan umat santun jikalau para ustadz dan para ulama tidak mengenal kesantunan? Bagaimana mungkin umat akan bangkit menjadi orang yang bersemangat dalam kebajikan jikalau pemimpinnya tidak bersemangat?

Rasululah tidak menyuruh orang lain sebelum menyuruh dirinya sendiri. Tidak melarang sebelum melarang dirinya. Kata dan perbuatan amat serasi sehingga setiap kata-kata diyakini kebenarannya. Jangan jatuhkan diri kita dengan memperbanyak kata yang tidak sesuai dengan perilaku. Percayalah, Allah tidak akan mengangkat derajat seseorang dengan kata-katanya belaka, jikalau tidak diikuti dengan perilakunya. Bahkan ancaman Allah,

Amat besar kemurkaan di sisi Allah bagi orang yang berkata-kata apa yang tidak diperbuatnya. (QS 61:3)

Ketiga, Rasulullah memimpin tidak hanya menggunakan akal atau fisik tetapi tapi yang paling penting beliau memimpin dengan qalbunya. Beliau saw memimpin dengan hatinya. Hati tidak akan pernah bisa tersentuh kecuali dengan hati. Bagaimana mungkin seorang ayah ada di hati anaknya jika anak hanya terbagi sisa waktu? Bagaimana mungkin seorang anak bisa mencintai ibu-bapaknya jikalau orangtuanya tidak sungguh-sungguh memberikan hati kepada anaknya? Ada yang hanya memberi harta, ada yang hanya memberi makanan, hanya memberikan kendaraaan. Itu hanyalah sekedar benda ! Yang paling dibutuhkan manusia adalah hati. Karena itulah yang tidak dimiliki oleh binatang, tidak dimiliki oleh makhluk lainnya.

Rasulullah menabur cinta, sehingga setiap orang bisa merasakan dari tatapannya yang penuh kasih sayang. Dari tutur katanya yang rahmatan lil ‘alamiin, perilakunya yang amat menawan. Terkadang hati kita yang satu-satunya ini diisi oleh kebencian. Benarlah yang dikatakan Buya Hamka: “Tidakkah engkau lihat betapa indahnya gunung yang hijau. Atau engkau tatap langit yang biru bertabur awan seputih kapas atau engkau bangun di malam hari melihat taburan bintang dan bulan nan indah. Atau engkau bangun di gulitanya malam engkau dengar indahnya jangkrik bersahutan, semua ini indah. Lalu mengapa hati kita yang satu-satunya ini harus kita isi dengan kebusukan? Dengan kebencian? Kedendaman? Keserakahan ?” Tidak akan terangkat martabat seorang pemimpin yang tidak memiliki kasih sayang.

Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik pemimpin diantara kamu adalah yang kamu mencintainya, dan diapun mencintaimu. Engkau menghormatinya, dan dia pun menghormatimu. Dan seburuk-buruk pemimpin adalah pemimpin yang engkau membencinya, dan dia pun membencimu. Engkau melaknatnya, dan ia pun melaknat.” (HR. Muslim) Nau’dzubillahi min dzalik.

Itulah pemimpin para pemimpin, Baginda Rasulullah Muhammad saw. Dan beliau saw berhasil membina para pemimpin yang berhasil. Dan tidak mungkin saya menulis sejarah keberhasilan mereka satu per satu. Saya ingin memberikan contoh beberapa pemimpin hasil didikan Islam, itupun hanya ‘secuil’ kalimat saja.

Abu Bakar Ash Shiddiq ra

Abu Bakar Ash Shiddiq ra adalah seorang pemberani :

Al-Bazzar dalam Musnadnya dari ’Ali ra.: “Beritahukan kepadaku, siapa manusia yang paling berani?”….. Dia (’Ali ra.) berkata: ”Dia adalah Abu Bakar. Sesungguhnya tatkala peristiwa Badar, kami membikin bangsal berteduh untuk Rasulullah. Kami kemudian berkata: Siapa yang tinggal bersama Rasulullah agar tidak ada seorang pun yang mendekatinya? Maka demi Allah, saat itu tidak ada seorang pun yang mendekat dari kami kecuali Abu Bakar dengan menghunus pedangnya di atas kepala Rasulullah, di mana tidak ada satu orang pun musuh yang mendekati RasuluLlah kecuali Abu Bakar akan mendekatinya. Dengan demikian, dia adalah manusia paling berani…”

Dan Abu Bakar Ash Shiddiq ra adalah seorang paling shalih dan dicintai Nabi saw :

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., dia berkata: RasuluLlah saw. bersabda: “Siapa di antara kalian berpuasa pada hari ini?” Abu Bakar berkata: “Saya.” “Lalu siapa yang ikut mengantar jenazah?” tanya Rasulullah saw. Abu Bakar menjawab: “Saya.” “Siapa yang hari ini memberi makan orang miskin?” tanya Rasulullah saw. Abu Bakar menjawab: “Saya.” “Lalu siapa yang hari ini menjenguk orang sakit?” tanya Nabi saw. Abu Bakar menjawab: “saya.” Rasulullah saw. bersabda: “Tidaklah semua perkara yang saya sebutkan tadi ada pada satu orang kecuali orang itu akan masuk surga.”

Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Amr bin Al-‘Ash ra., dia berkata: Saya berkata: ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling engkau cintai?” Beliau berkata: “’Aisyah!” Saya katakan: “Kalau dari kalangan laki-laki?” RasuluLlah saw. Menjawab: ”Ayahnya (Abu Bakar ra).”

Yang penuh kasih sayang :

“Orang yang paling kasih sayang dari umatku ialah Abubakar, ….” (HR. Ahmad, Ibnu Maajah, Alhakim, Attirmidzi).

Umar Ibnul Khattab ra

Seorang pemimpin yang lurus dan bersih aqidah nya :

Dari Ibnu ’Umar ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: ”Sesungguhnya Allah menjadikan kebenaran di lidah dan hati ’Umar.” (HR. Tirmidzi)

“….., dan paling teguh dalam memelihara ajaran ALLAH ialah Umar, ….” (HR. Ahmad, Ibnu Maajah, Alhakim, Attirmidzi).

Abu Syaikh berkata dalam kitab al-‘Azhamah: Telah berkata kepada kami Abu Thayyib, telah berkata kepada kami Abdullah bin Shalih, telah berkata kepada kami Ibnu Lahi’ah dari Qais bin al-Hajjaj dari orang yang mengatakan kepadanya dia berkata: Tatkala Mesir dibuka oleh kaum muslimin, penduduk Mesir datang menemui ‘Amr bin al-‘Ash ra. pada saat sudah masuk salah satu bulan yang dianggap sakral oleh penduduk setempat. Orang-orang Mesir itu berkata, “Wahai gubernur, sesungguhnya Nil ini (maksudnya sungai Nil) memiliki kebiasaan di mana dia tidak akan mengalir kecuali dengan sebuah tradisi.” ‘Amr bin al-‘Ash ra. berkata, “Tradisi apakah itu?” “Jika masuk tanggal sebelas bulan ini, kami akan mencari perawan ke rumah orang tua mereka. Lalu kami minta kedua orangtuanya untuk memberikan perawan itu kepada kami dengan suka rela. Kami hiasi perawan itu dengan baju dan hiasan yang paling indah, kemudian kami lemparkan dia ke sungai Nil ini,” jawab penduduk. “Ini tidak mungkin dilakukan di dalam Islam. Karena sesungguhnya Islam menghapus tradisi lama,” kata ‘Amr bin al-‘Ash ra.


Lalu mereka melaksanakan apa yang dikatakan oleh ‘Amr bin al-‘Ash. Ternyata sungai Nil itu kering dan tidak mengalirkan air sedikit pun. Hingga kebanyakan penduduk berencana untuk melakukan hijrah. Tatkala melihat kondisi demikian, ‘Amr bin al-‘Ash ra. menulis surat kepada ‘Umar bin al-Khaththab ra. Dalam surat itu dia menerangkan bahwa mereka ditimpa musibah akibat yang ‘Amr bin al-‘Ash ra. katakan, di mana beliau ra. mengatakan bahwa Islam telah menghapus tradisi lama (yang berlaku pada masyarakat di sekitar sungai Nil tersebut).


‘Umar ra. menulis kepada ‘Amr bin al-‘Ash ra. yang di dalamnya ada sebuah nota kecil. Dalam surat itu ‘Umar menulis: “Sesungguhnya saya telah mengirim kepada-mu dalam suratku satu nota kecil, maka lemparlah nota kecil itu ke sungai Nil.” Tatkala surat ‘Umar ra. sampai di tangan ‘Amr bin al-‘Ash ra., dia mengambil nota kecil itu dan membukanya. Ternyata di dalamnya berisi tulisan sebagai berikut:


“Dari Hamba Allah, Amirul Mukminin, ‘Umar bin al’-Khaththab. Amma ba’du.

Jika kamu mengalir karena dirimu sendiri, maka janganlah engkau mengalir. Namun jika yang mengalirkan airmu adalah Allah, maka mintalah kepada Allah Yang Maha Kuasa untuk mengalirkanmu kembali.”


‘Amr bin al-‘Ash ra. kemudian melemparkan nota kecil itu ke sungai Nil. Allah Swt. mengalirkan air sungai Nil dengan kadar enambelas dzira’ dalam satu malam. Dengan peristiwa itu, Allah Swt. telah menghancurkan tradisi jahiliyyah dari penduduk Mesir tersebut hingga sekarang.


Utsman ibnu Affan ra

Memiliki akhlak yang menyerupai akhlak Nabi saw :

Rasulullah saw. bersabda: ”Hormatilah ia (’Utsman ra.) karena ia adalah orang yang akhlaknya paling menyerupaiku di antara para Sahabatku.” (HR. Ahmad)

Sifat dermawan dan senang berinfak fi sabilillah :

Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Anas, juga al-Hakim –dia menyatakan keshahihan riwayat ini– dari ’AbdurRahman Samurah dia berkata: ’Utsman datang menemui Rasulullah saw. dengan membawa seribu dinar tatkala dia sedang mempersiapkan Jaysy al-’Usrah (Tentara yang berada dalam kesulitan). Kemudian Rasulullah saw. menyimpannya di kamarnya dan membalik-balikkan uang tersebut seraya berkata: ”Setelah ini tidak ada pekerjaan ’Utsman yang membahayakan dirinya”. Beliau mengatakan itu sebanyak dua kali.

Juga diriwayatkan dari Ibn Syihab Az-Zuhri, bahwa pada Perang Tabuk, ’Utsman ra. membawa lebih dari 940 unta, kemudian membawa 60 kuda untuk menggenapinya menjadi 1000.

Al-Baghawi menceritakan bahwa Kaum Muhajirim ketika memasuki Madinah mencari air. Air itu adalah milik seorang dari Bani Ghaffar, berupa mata air dinamai Raumah. Satu timba air dijualnya dengan harga 1 mudd (gandum). Nabi saw. berkata kepada orang itu: ”Apakah kau mau menjual sumurmu itu dengan (imbalan) mata air di surga?” Orang itu menjawab: ”Wahai RasuluLlah, aku dan keluargaku tidak memiliki apa-apa selain sumur ini”. Lalu ’Utsman ra. mendengar hal itu, maka ia membelinya dengan 35.000 dirham. Lalu ia mendatangi Nabi saw. dan berkata kepada beliau saw.: ”Apakah engkau berikan untukku seperti yang kau janjikan baginya tadi?” Nabi saw. menjawab: ”Ya”. ’Utsman berkata: ”Aku telah membelinya dan aku peruntukkan bagi kaum Muslimin.”


’Utsman ra. juga pernah memberikan seluruh kafilah dagangnya yang baru datang dari Syam untuk fakir dan miskin dari Kaum Muslimin, padahal begitu banyak pedagang yang menawar barang-barang tersebut dengan bayaran lima kali lipat keuntungan, karena pada saat itu barang-barang tersebut sedang sangat dibutuhkan. Hal ini terjadi di masa kekhilafahan Abu Bakar ra.

Sifatnya yang Pemalu :

Setiap sahabat Nabi SAW memiliki keistimewaan sifat, baik yang tampak dalam ucapannya maupun dalam amal perbuatannya. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW : “Orang yang paling kasih sayang dari umatku ialah Abubakar, dan paling teguh dalam memelihara ajaran ALLAH ialah Umar, dan yang paling bersifat pemalu ialah Utsman.” (HR. Ahmad, Ibnu Maajah, Alhakim, Attirmidzi).

Perluasan Da’wah Islamiah

Di masa khalifah Utsman, perluasan dakwah Islamiah mengalami jaman keemasan. Contoh pada tahun 24 Hijriah, Utsman mengirim pasukan tentara yang berada dibawah komando Alwalid bin Aqobah menuju Azerbaijan dan Armenia, karena kedua daerah ini telah membatalkan perjanjian yang dibuat dengan kaum muslimin di jaman Umar ra. Juga pada tahun 25 H, penduduk Iskandariah membatalkan perjanjian karena mereka telah dijanjikan mendapat bantuan dari kerajaan Romawi, tapi negeri itu segera tunduk dan kembali dikuasai dengan damai oleh kaum muslimin setelah pasukannya menyerbu negeri ini. Dan masih banyak lagi tapi yang paling dahsyat tatkala Utsman mengutus Abdullah bin Saad (27 H) untuk menyerbu Afrika. tentara muslim berjumlah 20.000 berhadapan dengan kaum Barbar yang terdiri dari 120.000 orang dibawah pimpinan rajanya yaitu Jarjir. Dengan pertolongan ALLAH kaum muslimin dapat mengalahkan mereka hingga mereka menuju Andalusia (Spanyol). Para ahli sejarah menganggap masa Utsman ra sebagai jaman kemenangan kaum muslimin dan jaman penaklukan kekuatan-kekuatan Romawi, Parsi dan Turki.

Ali bin Abi Thalib ra

Adalah Ali bin Abi Thalib seorang yang takut kepada Allah swt, paling kuat dan paling berani :

Al-Hakim meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri, dia berkata: Beberapa orang mengeluh tentang ‘Ali. Maka berdirilah RasuluLlah saw. seraya berkata di depan publik: “Janganlah kalian mengeluhkan tentang ‘Ali, sesungguhnya dia adalah orang yang paling takut kepada Allah, dan paling berani dalam jihad di Jalan Allah.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir bahwa Jabir bin ‘Abdullah berkata: Pada saat perang Khaibar, ‘Ali mampu menjebol pintu Khaibar sendirian, hingga akhirnya kaum muslimin mampu masuk ke dalam benteng dan menaklukkan musuh-musuhnya. Lalu mereka menarik pintunya dan pintu tersebut tidak mampu ditarik kecuali oleh 40 orang.

Seorang yang sangat dicintai Allah dan Rasul Nya :

Imam Ath-Thabarani dengan isnad shahih meriwayatkan dari Ummu Salamah ra. dari RasuluLlah saw, beliau saw. bersabda: “Barangsiapa mencintai ‘Ali, maka dia berarti mencintai saya, dan siapa yang mencintai saya, berarti dia mencintai Allah. Barangsiapa membenci ‘Ali, berarti dia membenci saya dan barangsiapa yang membenci saya berarti dia membenci Allah.”

Seorang yang paling pandai :

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Sa’id bin Musayyib dia berkata: ‘Umar bin Khaththab ra. selalu memohon perlindungan kepada Allah dari godaan syetan dalam memutuskan perkara sulit jika saat itu ‘Ali ra. tidak hadir.

Umar bin Abdul Aziz

Seorang yang sangat takut kepada Allah swt dan adil :

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah pernah mengumpulkan ahli fiqih dan ulama kemudian beliau berkata kepada mereka: “Aku mengumpulkan kamu semua untuk bertanya dan meminta pendapat tentang perkara yang berkaitan dengan barang yang diambil secara zalim yang masih berada pada keluargaku?” Lalu mereka menjawab: “Wahai Amirul Mukminin! perkara tersebut berlaku bukan pada masa pemerintahan kamu dan dosa kezaliman tersebut ditanggung oleh orang yang melakukannya (mengambilnya dengan zalim).”

Walau bagaimanapun Umar merasa tidak puas dengan jawaban tersebut. Sebaliknya beliau menerima pendapat yang lain termasuk anak beliau sendiri Abdul Malik yang berkata: “Aku berpendapat bahwa barang itu hendaklah dikembalikan kepada pemilik asalnya selagi kamu mengetahuinya. Sekiranya kamu tidak mengembalikannya, kamu akan menanggung dosa bersama-sama dengan orang yang mengambilnya secara zalim.” Umar berpuas hati mendengar pendapat tersebut lalu beliau mengembalikan semula barang yang diambil secara zalim kepada pemilik asalnya.

Tidak ada salahnya bila kisahnya saya tuliskan kembali, berikut sepenggal kisahnya :

Umar Bin Abdul Aziz muncul di persimpangan sejarah umat Islam di bawah kepemimpinan dinasti Bani Umayyah. Pada penghujung abad pertama hijriyah, dinasti ini memasuki usianya yang keenam puluh, atau dua pertiga dari usianya, dan telah mengalami pembusukan internal yang serius. Umar sendiri adalah bagian dari dinasti ini, hampir dalam segala hal. Walaupun pada dasarnya ia seorang ulama yang telah menguasai seluruh ilmu ulama-ulama Madinah, tapi secara pribadi ia juga merupakan simbol dari gaya hidup dinasti Bani Umayyah yang korup, mewah dan boros.

Itu membuatnya tidak cukup percaya diri untuk memimpin ketika keluarga kerajaan memintanya menggantikan posisi Abdul Malik Bin Marwan setelah beliau wafat. Bukan saja karena persoalan internal kerajaan yang kompleks, tapi juga karena ia sendiri merupakan bagian dari persoalan tersebut. Ia adalah bagian dari masa lalu. Tapi pilihan atas dirinya, bagi keluarga kerajaan, adalah sebuah keharusan. Karena Umar adalah tokoh yang paling layak untuk posisi ini.

Ketika akhirnya Umar menerima jabatan ini, ia mengatakan kepada seorang ulama yang duduk di sampingnya, Al-Zuhri, “Aku benar-benar takut pada neraka.” Dan sebuah rangkaian cerita kepahlawanan telah dimulai dari sini, dari ketakutan pada neraka, saat beliau berumur 37 tahun, dan berakhir dua tahun lima bulan kemudian, atau ketika beliau berumur 39 tahun, dengan sebuah fakta: reformasi total telah dilaksanakan, keadilan telah ditegakkan dan kemakmuran telah diraih. Ulama-ulama kita bahkan menyebut Umar Bin Abdul Aziz sebagai pembaharu abad pertama hijriyah, bahkan juga disebut sebagai khulafa rasyidin kelima.

Mungkin indikator kemakmuran yang ada ketika itu tidak akan pernah terulang kembali, yaitu ketika para amil zakat berkeliling di perkampungan-perkampungan Afrika, tapi mereka tidak menemukan seseorang pun yang mau menerima zakat. Negara benar-benar mengalami surplus, bahkan sampai ke tingkat dimana utang-utang pribadi dan biaya pernikahan warga pun ditanggung oleh negara.

Memulai dari Diri Sendiri, Keluarga dan Istana Umar Bin Abdul Aziz menyadari dengan baik bahwa ia adalah bagian dari masa lalu. Ia tidak mungkin sanggup melakukan perbaikan dalam kehidupan negara yang luas kecuali kalau ia berani memulainya dari dirinya sendiri, kemudian melanjutkannya pada keluarga intinya dan selanjutnya pada keluarga istana yang lebih besar. Maka langkah pertama yang harus ia lakukan adalah membersihkan dirinya sendiri, keluarga dan istana kerajaan. Dengan tekad itulah ia memulai sebuah reformasi besar yang abadi dalam sejarah.

Begitu selesai dilantik Umar segera memerintahkan mengembalikan seluruh harta pribadinya, baik berupa uang maupun barang, ke kas negara, termasuk seluruh pakaiannya yang mewah. Ia juga menolak tinggal di istana, ia tetap menetap di rumahnya. Pola hidupnya berubah secara total, dari seorang pencinta dunia menjadi seorang zahid yang hanya mencari kehidupan akhirat yang abadi. Sejak berkuasa ia tidak pernah lagi tidur siang, mencicipi makanan enak. Akibatnya, badan yang tadinya padat berisi dan kekar berubah menjadi kurus dan ceking.

Setelah selesai dengan diri sendiri, ia melangkah kepada keluarga intinya. Ia memberikan dua pilihan kepada isterinya, “Kembalikan seluruh perhiasan dan harta pribadimu ke kas negara, atau kita harus bercerai.” Tapi istrinya, Fatimah Binti Abdul Malik, memilih ikut bersama suaminya dalam kafilah reformasi tersebut. Langkah itu juga ia lakukan dengan anak-anaknya. Suatu saat anak-anaknya memprotesnya karena sejak beliau menjadi khalifah mereka tidak pernah lagi menikmati makanan-makanan enak dan lezat yang biasa mereka nikmati sebelumnya. Tapi Umar justeru menangis tersedu-sedu dan memberika dua pilihan kepada anak-anak, “Saya beri kalian makanan yang enak dan lezat tapi kalian harus rela menjebloskan saya ke neraka, atau kalian bersabar dengan makanan sederhana ini dan kita akan masuk surga bersama.”

Selanjutnya, Umar melangkah ke istana dan keluarga istana. Ia memerintahkan menjual seluruh barang-barang mewah yang ada di istana dan mengembalikan harganya ke kas negara. Setelah itu ia mulai mencabut semua fasilitas kemewahan yang selama ini diberikan ke keluarga istana, satu per satu dan perlahan-lahan. Keluarga istana melakukan protes keras, tapi Umar tetap tegar menghadapi mereka. Hingga suatu saat, setelah gagalnya berbagai upaya keluarga istana menekan Umar, mereka mengutus seorang bibi Umar menghadapnya.

Boleh jadi Umar tegar menghadapi tekanan, tapi ia mungkin bisa terenyuh menghadapi rengekan seorang perempuan. Umar sudah mengetahui rencana itu begitu sang bibi memasuki rumahnya. Umar pun segera memerintahkan mengambil sebuah uang logam dan sekerat daging. Beliau lalu membakar uang logam tersebut dan meletakkan daging diatasnya. Daging itu jelas jadi “sate.” Umar lalu berkata kepada sang bibi: “Apakah bibi rela menyaksikan saya dibakar di neraka seperti daging ini hanya untuk memuaskan keserakahan kalian? Berhentilah menekan atau merayu saya, sebab saya tidak akan pernah mundur dari jalan reformasi ini.”

Langkah pembersihan diri, keluarga dan istana ini telah meyakinkan publik akan kuatnya ’political will’ untuk melakukan reformasi dalam kehidupan bernegara, khususnya dalam pembersihan KKN. Sang pemimpin telah telah menunjukkan tekadnya, dan memberikan keteladanan yang begitu menakjubkan.

Langkah kedua yang dilakukan Umar Bin Abdul Aziz adalah penghematan total dalam penyelenggaraan negara. Langkah ini jauh lebih mudah dibanding langkah pertama, karena pada dasarnya pemerintah telah menunjukkan kredibilitasnya di depan publik melalui langkah pertama. Tapi dampaknya sangat luas dalam menyelesaikan krisis ekonomi yang terjadi ketika itu.

Sumber pemborosan dalam penyelenggaraan negara biasanya terletak pada struktur negara yang tambun, birokrasi yang panjang, administrasi yang rumit. Tentu saja itu disamping gaya hidup keseluruhan dari para penyelenggara negara. Setelah secara pribadi beliau menunjukkan tekad untuk membersihkan KKN dan hidup sederhana, maka beliau pun mulai membersihkan struktur negara dari pejabat korup. Selanjutnya beliau merampingkan struktur negara, memangkas rantai birokrasi yang panjang, menyederhanakan sistem administrasi. Dengan cara itu negara menjadi sangat efisien dan efektif.

Simaklah sebuah contoh bagaimana penyederhanaan sistem administrasi akan menciptakan penghematan. Suatu saat gubernur Madina mengirim surat kepada Umar Bin Abdul Aziz meminta tambahan blangko surat untuk beberapa keperluan adminstrasi kependudukan. Tapi beliau membalik surat itu dan menulis jawabannya, “Kaum muslimin tidak perlu mengeluarkan harta mereka untuk hal-hal yang tidak mereka perlukan, seperti blangko surat yang sekarang kamu minta.”

Langkah ketiga adalah melakukan redistribusi kekayaan negara secara adil. Dengan melakukan restrukturisasi organisasi negara, pemangkasan birokrasi, penyederhanaan sistem administrasi, pada dasarnya Umar telah menghemat belanja negara, dan pada waktu yang sama, mensosialisasikan semangat bisnis dan kewirausahaan di tengah masyarakat. Dengan cara begitu Umar memperbesar sumber-sumber pendapatan negara melalui zakat, pajak dan jizyah.

Dalam konsep distribusi zakat, penetapan delapan objek penerima zakat atau mustahiq, sesungguhnya mempunyai arti bahwa zakat adalah sebentuk subsidi langsung. Zakat harus mempunyai dampak pemberdayaan kepada masyarakat yang berdaya beli rendah. Sehingga dengan meningkatnya daya beli mereka, secara langsung zakat ikut merangsang tumbuhnya demand atau permintaan dari masyarakat, yang selanjutnya mendorong meningkatnya suplai. Dengan meningkatnya konsumsi masyarakat, maka produksi juga akan ikut meningkat. Jadi, pola distribusi zakat bukan hanya berdampak pada hilangnya kemiskinan absolut, tapi juga dapat menjadi faktor stimulan bagi pertumbuhan ekonomi di tingkat makro.

Itulah yang kemudian terjadi di masa Umar Bin Abdul Aziz. Jumlah pembayar zakat terus meningkat, sementara jumlah penerima zakat terus berkurang, bahkan habis sama sekali. Para amil zakat berkeliling di pelosok-pelosok Afrika untuk membagikan zakat, tapi tak seorang pun yang mau menerima zakat. Artinya, para mustahiq zakat benar-benar habis secara absolut. Sehingga negara mengalami surplus. Maka redistribusi kekayaan negara selanjutnya diarahkan kepada subsidi pembayaran utang-utang pribadi (swasta), dan subsidi sosial dalam bentuk pembiayaan kebutuhan dasar yang sebenarnya tidak menjadi tanggungan negara, seperti biaya perkawinan. Suatu saat akibat surplus yang berlebih, negara mengumumkan bahwa “negara akan menanggung seluruh biaya pernikahan bagi setiap pemuda yang hendak menikah di usia muda.”

Mungkinkah akan muncul kembali Pemimpin Islami ?

Sejarah selalu hadir di depan kesadaran kita dengan potongan-potongan zaman yang cenderung mirip dan terduplikasi. Pengulangan-pengulangan itu memungkinkan kita menemukan persamaan-persamaan sejarah, sesuatu yang kemudian memungkinkan kita menyatakan dengan yakin, bahwa sejarah manusia sesungguhnya diatur oleh sejumlah kaidah yang bersifat permanen. Manusia, pada dasarnya, memiliki kebebasan yang luas untuk memilih tindakan-tindakannya. Tetapi ia sama sekali tidak mempunyai kekuatan untuk menentukan akibat dari tindakan-rindakannya. Tetapi karena kapasitas manusia sepanjang sejarah relatif sama saja, maka ruang kemampuan aksinya juga, pada akhirnya, relatif sama.

Itulah sebab yang memungkinkan terjadinya pengulangan-pengulangan tersebut. Tentu saja tetap ada perbedaan-perbedaan waktu dan ruang yang relatif sederhana, yang menjadikan sebuah zaman tampak unik ketika ia disandingkan dengan deretan zaman yang lain.

Itu sebabnya Allah memerintahkan kita menyusuri jalan waktu dan ruang, agar kita dapat merumuskan peta sejarah manusia, untuk kemudian menemukan kaidah-kaidah permanen yang mengatur dan mengendalikannya. Kaidah-kaidah permanen itu memiliki landasan kebenaran yang kuat, karena ia ditemukan melalui suatu proses pembuktian empiris yang panjang. Bukan hanya itu, kaidah-kaidah permanen itu sesungguhnya juga mengatur dan mengendalikan kehidupan kita. Dengan begitu sejarah menjadi salah satu referensi terpenting bagi kita, guna menata kehidupan kita saat ini dan esok.

Sejarah adalah cermin yang baik, yang selalu mampu memberi kita inspirasi untuk menghadapi masa-masa sulit dalam hidup kita. Seperti juga saat ini, ketika bangsa kita sedang terpuruk dalam krisis multidimensi yang rumit dan kompleks, berlarut-larut dan terasa begitu melelahkan. Ini mungkin saat yang tepat untuk mencari sepotong masa dalam sejarah, dengan latar persoalan-persoalan yang tampak mirip dengan apa yang kita hadapi, atau setidak-tidaknya pada sebagian aspeknya, untuk kemudian menemukan kaidah permanen yang mengatur dan mengendalikannya.

Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam menyatakan sebuah ketetapan sejarah, bahwa di ujung setiap putaran seratus tahun Allah Swt akan membangkitkan seorang ’pembaharu’ yang akan akan mempebaharui kehidupan keagamaan umat ini. Ketetapan itu menjadikan masa satu abad sebagai sebuah besaran waktu yang memungkinkan terjadinya pengulangan-pengulangan masalah, rotasi pola persoalan-persoalan hidup. Ketetapan itu juga menyatakan adanya fluktuasi dalam sejarah manusia, masa pasang dan masa surut, masa naik dan masa turun. Dan titik terendah dari masa penurunan itulah Allah Swt akan membangkitkan seorang pembaharu yang menjadi lokomotif reformasi dalam kehidupan masyarakat.

Itulah yang terjadi di ujung abad pertama hijriyah dalam sejarah Islam. Sekitar enam puluh tahun sebelumnya, masa khulafa rasyidin telah berakhir dengan syahidnya Ali bin Abi Thalib. Muawiyah bin Abi Sofyan yang kemudian mendirikan dinasti Bani Umayyah di Damaskus, mengakhiri sistem khilafah dan menggantinya dengan sistem kerajaan. Pemimpin tertinggi dalam masyarakat Islam tidak lagi dipilih, tapi ditetapkan.

Perubahan pada sistem politik ini berdampak pada perubahan perilaku politik para penguasa. Secara perlahan mereka menjadi kelompok elit politik yang eksklusif, terbatas pada jumlah tapi tidak terbatas pada kekuasaan, sedikit tapi sangat berkuasa. Sistem kerajaan dengan berbagai perilaku politik yang menyertainya, biasanya secara langsung menutup katup politik dalam masyarakat dimana kebebasan berekspresi secara perlahan-lahan dibatasi, atau bahkan dicabut sama sekali. Itu memungkinkan para penguasa menjadi tidak tersentuh oleh kritik dan tidak terjangkau oleh sorot mata masyarakat. Tidak ada keterbukaan, tidak ada transparansi.

Dalam keadaan begitu para penguasa memiliki keleluasaan untuk melakukan apa saja yang mereka ingin lakukan. Maka penyimpangan politik segera berlanjut dengan penyimpangan ekonomi. Kezaliman dalam distribusi kekuasaan dengan segera diikuti oleh kezaliman dalam distribusi kekayaan. Yang terjadi pada mulanya adalah sentralisasi kekuasaan, tapi kemudian berlanjut ke sentralisasi ekonomi. Keluarga kerajaan menikmati sebagian besar kekayaan negara. Apa yang seharusnya menjadi hak-hak rakyat hanya mungkin mereka peroleh berkat “kemurahan hati” pada penguasa, bukan karena adanya sebuah sistem ekonomi yang memungkinkan rakyat mengakses sumber-sumber kekayaan yang menjadi hak mereka. Bukan hanya KKN yang terjadi dalam keluarga kerajaan, tapi juga performen lain yang menyertainya berupa gaya hidup mewah dan boros. Negara menjadi tidak efisien akibat pemborosan tersebut. Dan pemborosan, kata ulama-ulama kita, adalah indikator utama terjadinya kezaliman dalam distribusi kekayaan. Jadi ada pemerintahan yang korup sekaligus zhalim, penuh KKN sekaligus mewah dan boros, tidak bersih, tidak efisien dan tidak adil.

Itulah persisnya apa yang terjadi pada dinasti Bani Umayyah. Berdiri pada tahun 41 hijriyah, dinasti Bani Umayyah berakhir sekitar 92 tahun kemudian, atau tepatnya pada tahun 132 hijriyah. Tapi sejarah dinasti ini tidaklah gelap seluruhnya. Dinasti ini juga mempunyai banyak catatan cemerlang yang ia sumbangkan bagi kemajuan peradaban Islam. Salah satunya adalah cerita sukses yang tidak terdapat atau tidak pernah terulang pada dinasti lain ketika seorang laki-laki dari klan Bani Umayyah, dan merupakan cicit dari Umar Bin Khattab, yaitu Umar Bin Abdul Aziz, muncul sebagai khalifah pada penghujung abad pertama hijriyah.

Yang dilakukan oleh Umar bin Abdul Aziz adalah mempertemukan keadilan dengan kemakmuran. Ketika pemimpin yang saleh dan kuat dihadirkan di persimpangan sejarah, untuk menyelesaikan krisis sebuah umat dan bangsa. Dan itu bisa saja terulang, artinya Pemimpin yang Islami dapat saja muncul bila syarat dan kondisi yang sama juga terulang. Dan inilah masalah kita, pengulangan sejarah itu tidak terjadi, karena syaratnya tidak (atau belum) terpenuhi..

Pemimpin Pemimpi

Seorang yang hatinya hidup selalu merindukan kebaikan, keselamatan, kebahagiaan bagi orang lain. Yang melihat orang lain penuh dengan kasih sayang. Melihat orang yang bergelimang dosa, terucaplah doa… “Ya Allah kalau tidak Engkau lindungi, saya pun mungkin berlumur dosa seperti dia. Saya sekarang bisa shalat, bisa sujud karena pertolongan-Mu. Ya Allah selamatkan saudara kami yang bergelimang dosa. Mungkin dia pun ingin bahagia tapi belum menemukan jalannya”. Tapi tidak bagi orang yang hatinya keras membatu. Hanya dengki, iri, sombong, riya, takabur. Dia tidak akan pernah bisa memimpin siapapun. Karena pemimpin yang hatinya busuk tidak akan pernah bisa menyentuh hati orang lain.

Seorang pemimpin di rumah tangga tidak cukup hanya bisa memberi harta. Penjahat pun bisa memberi harta. Pemimpin yang baik memberikan perhatian yang tulus, ucapan yang terjaga, dan perilaku yang budiman, subhanallah. Itulah Rasulullah yang mulia. Pemimpin yang dicontohkan oleh Rasul adalah pemimpin yang bisa berkhidmat kepada kaumnya. Karena sayidnya pemimpin dari satu kaum khadimukum yaitu orang yang bisa berkhidmat kepada mereka. Jadi pemimpin dalam Islam bukan pemimpin yang harus dilayani segala-galanya tapi melayani. Terbayang ketika Rasulullah sedang duduk bersama para sahabat, ada sahabat yang berkata: “Rasul, kita akan memotong kambing. Saya yang memotongnya ya Rasul.” Tiba-tiba sahabat lain mengacungkan tangan, “Ya Rasul, saya yang mengulitinya.” Satu lagi mengatakan, “Rasul, biarlah saya yang memasaknya.” Rasulullah bangkit, “Biar saya yang mencari kayu bakarnya.” Pemimpin mana yang teramat indah seperti ini? Yang tidak merasa bangga dilayani tetapi merasa berhutang untuk bisa melayani.

Dalam Islam tidak seperti piramida tetapi piramida terbalik. Setinggi-tinggi pemimpin adalah orang yang bisa berkhidmat dengan tulus. Yang menafkahkan jiwanya, raganya untuk kemashlahatan ummat. Dia berkorban dengan amat mudah dan ringan karena merasa itulah kehormatan menjadi pemimpin bukan mengorbankan orang lain, subhanallah.

Alangkah indahnya jikalau hari-hari yang ada kita isi dengan kerinduan untuk berkhidmat. “Ya Allah berikan kepada saya rezeki yang banyak, halal dan berkah agar saya bisa menjadi jalan dari-Mu untuk hamba-Mu yang lapar, yang sakit, yang tidak punya tempat berteduh.” Alangkah bahagianya jikalau kita terus tiap hari meraup ilmu agar kita menjadi jalan hidayah. Pemimpin yang budiman bukan berpikir apa yang dia dapatkan dari umat, tetapi apa yang dia bisa berikan yang terbaik bagi umat.

Prihatin sekali kita, sekarang sepertinya sulit mencari pemimpin diantara 220 juta penduduk Indonesia. Saling mengutuk, saling menghujat, saling mencaci. Kita belum memiliki pemimpin tertinggi di negeri ini, yang lulus dengan selamat di penghujung kepemimpinannya. Terjatuhkan, terpuruk, sebagian masuk penjara, sebagian terhina. Para petinggi di negeri kita kebanyakan adalah umat Islam juga.

Mungkin kalau berpikir negeri terlalu besar, marilah kita berpikir bagaimana kita memimpin diri kita sendiri. Minimal jangan pernah biarkan diri kita menjadi hina karena mata yang jelalatan tidak terjaga. Minimal jangan sampai kita menjadi terhina dengan tutur kata yang penuh kesombongan. Marilah kita hidupkan hati kita dan marilah kita muliakan kehidupan dengan berkhidmat kepada orang lain. Khoirunnas anfa uhum linnas… “Sebaik-baik di antara manusia adalah orang yang paling banyak manfaatnya.”

Andaikata kita bisa menjadi suri tauladan, menjadi pemimpin yang indah di rumah, terbayang jika kita meninggal kelak, anak-anak kita bertabur doa setiap waktu karena yang dikenang hanyalah keindahan pribadi ibu bapaknya. Seperti ketika Siti Khadijah wafat, Rasulullah selalu menceritakan kebaikannya karena memang amat indah pribadinya. Sebaik-baik warisan seorang Muslim adalah akhlak yang mulia.

Andaikata para pemimpin di negeri ini bukan seorang pemimpi. Yang hanya bermimpi telah melakukan banyak hal bagi rakyatnya. Yang cuma bermimpi telah memberikan yang terbaik bagi rakyatnya. Mereka telah banyak bermimpi bahwa mereka adalah yang terbaik bagi bangsanya. Mereka cuma dan hanya bisa bermimpi…..

Saya seorang Pemimpi, yang mendambakan hadirnya seorang Pemimpin..

Tapi saya selalu mendapatkan Pemimpin yang juga seorang Pemimpi..

Allahumma shalli wasalim wabaarik ala sayyidina wa maulana Muhammad

Wa ala alihi waashabihi ajmain

Alhamdulillah ya Allah, wahai Yang Maha Mendengar

Tiada mungkin kaki kami melangkah

Kecuali Engkau yang menguatkan

Tiada mungkin tergerak di hati kami ingin menjalankan ibadah

Kecuali Engkau yang menggerakkan

Tiada mungkin serupiah pun kami miliki

Kecuali Engkau yang memberikan

Tiada mungkin kami sehat

Kecuali Engkau yang menyehatkan

Tiada mungkin kami dapat membantu tubuh ini berwudhu

Kecuali Engkau yang mengajarkan

Tiada mungkin lisan ini dapat menyebut nama-Mu

Kecuali Engkau yang membimbing ya Allah

Rabbana dholamnaa anfusanaa wa illam taghfirlanaa

Watarhamnaa lanakuunanna minal khosirin.

Duhai Allah, ampuni seluruh dosa kami

Bersih dari dosa bagai bayi yang baru terlahir

Alangkah indahnya jikalau demikian ya Allah

Allah, Engkau Maha Mengetahui betapa menderitanya diri kami dengan lumuran dosa

Betapa sengsaranya hidup kami dengan menutupi aib

Betapa hinanya diri kami dengan maksiat

Bersihkan kami ya Allah

Bersihkan dosa kami ya Allah

Ampuni dosa kami kepada orang tua kami

Ampuni jikalau mereka menyesal melahirkan kami

Ampuni dosa kami kepada keluarga kami ya Allah,

Kepada anak-anak kami

Jangan biarkan mereka menuntut kami di akhirat

Berikan kesempatan bagi kami memperbaiki segalanya.

Rabbana hablanaa min azwaajinaa wadzurriyyatina

Qurrota a’yun, Waj ‘alnaa lilmuttaqiina imaman.

Ampuni ya Allah jika di sekujur tubuh kami ada harta haram

Di rumah kami banyak barang haram

Padahal Engkau mengharamkan ke sorga bagi yang di tubuhnya ada daging haram

Berikan kesempatan kami untuk menyucikan diri dari harta haram ya Allah

Jauhkan sejauh-jauhnya ya Allah

Cukupi diri kami dengan rizki-Mu yang halal

Ya Allah ampuni jikalau kami sering mendzalimi hamba-hamba-Mu yang lemah

Berikan kesanggupan bagi kami untuk terpelihara dari kedzaliman

Duhai Yang Maha Mendengar, hanya Engkaulah tumpuan harapan kami

Jadikan kaum muslimin ini menjadi suami yang benar

Menjadi ayah yang jujur

Menjadi laki-laki yang shaleh

Jadikan Kaum muslimah ini menjadi istri yang shalehah

Menjadi ibu yang shalehah

Menjadi muslimah yang terpelihara

Titipkan kepada kami duhai Allah,

Keturunan yang lebih baik daripada kami

Lindungi dari kedurhakaan dan kehinaan dunia wal akhirat

Ya Allah berkahilah sisa umur kami

Berkahilah rezeki yang Engkau titipkan kepada kami

Berkahilah ilmu yang Engkau karuniakan

Berkahilah sisa umur ini

Allahummaghfir lilmu’miniin wal mu’minat muslimin wal muslimat,

al ahyaai minhum wal amwaat…

Ya Allah selamatkan umat Islam ya Allah

Selamatkan umat Islam ya Allah

Jangan biarkan Engkau saksikan kami terhina seperti ini

Persatukan hati kami ya Allah

Bangkitkan para pemimpin yang mencintai-Mu dan mencintai umat-Mu

Tolonglah saudara kami yang teraniaya di penjuru mana pun ya Allah

Jangan biarkan kaum dzalimin berjaya atas kaum beriman ya Allah

Jangan biarkan kaum yang ingkar kepada-Mu

Mendzalimi kaum yang bersujud kepada-Mu


Ya Allah mereka dalam genggaman-Mu ya Allah

Ya Allah cegahlah kedzaliman atas umat-Mu ya Allah

Ya Allah, selamatkan negeri kami ya Rabb

Engkaulah yang Maha Tahu keadaan negeri kami

Jangan biarkan ummat-Mu sebanyak ini terpuruk dan terhina

Bangkitkan ya Allah

Jadikan negeri kami negeri yang terpancar cahaya Islam

Menjadi negeri yang rahmatan lil ‘aalamiin

Ya Allah karuniakan kepada kami pemimpin yang sholeh

Para pemimpin yang mencintai ummat-Mu

Para pemimpin yang teguh hidup di jalan-Mu

Para pemimpin yang benar-benar menjadi suri tauladan bagi kami

Duhai ya Allah yang Maha Agung

Undanglah kami, dengan keluarga kami dengan keturunan kami,

Dengan orang-orang yang berbuat baik kepada kami

Ya Allah, ijinkan kelak kami berjumpa dengan-Mu ya Allah

Berjumpa dengan Rasul-Mu

Berjumpa dengan kekasih-kekasih-Mu

Rabbana aatina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah Wa Qiina Adzabannar

Rabbana taqobball minna innaka anta samiul ‘alim

Watub alayna innaka antattawaburrahiim

Subbahaana rabbika rabbil ‘izzati ‘ammaa yaashifuun

Wasalamun alal mursaliin Walhamdulillahirrabil alamiin

* Dari berbagai sumber

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: