Menuju Cahaya

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Tahoma; panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:1627421319 -2147483648 8 0 66047 0;} @font-face {font-family:Alpine; mso-font-alt:”Times New Roman”; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:135 0 0 0 27 0;} @font-face {font-family:CSD-Chalk-Norma; mso-font-alt:”Times New Roman”; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:135 0 0 0 27 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:Arial; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p {mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0cm; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} span.gen {mso-style-name:gen;} @page Section1 {size:595.45pt 841.7pt; margin:2.0cm 2.0cm 2.0cm 2.0cm; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;}

MENUJU CAHAYA

By : Abu Zuhra

Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan. (QS Al An’ aam (6) : 122)

Sudah beberapa tahun belakangan ini, negeri kita tercinta sedang dilanda krisis. Dari krisis ekonomi, politik, sosial, hukum, keamanan, pangan, akhlaq, krisis pemimpin dan masih banyak lagi krisis yang melanda bangsa ini. Banyak yang memberi komentar dengan istilah krisis multidimensi, karena krisis ini melanda setiap dimensi kehidupan bernegara di republik tercinta ini. Entah sampai kapan krisis ini berakhir.

Dan belakangan ini, sedang hangat-hangatnya berita mengenai krisis bahan bakar dan listrik. Di Bekasi tempat kami tinggal, mulai mendapat giliran pemadaman. Bukan hanya perumahan bahkan pabrik-pabrik di Bekasi pun mendapat giliran pemadaman. Guna penghematan, begitu menurut pejabat berwenang.

Saya tidak ingin membahas masalah krisis energi tapi saya hanya ingin mengajak sahabat untuk membayangkan bagaimana bila suatu saat kita hidup tanpa listrik, hidup tanpa cahaya. Gelap.. Apa yang akan kita lakukan ? Bagaimana sikap kita ? Dari yang dahulunya terang benderang tiba-tiba saja gelap gulita.

atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu. (QS Al Baqarah (2) : 19-20)

Itu adalah perumpamaan dari Allah swt terhadap kita makhluk Nya, apabila kita berada dalam gelap gulita apalagi disertai hujan yang lebat, guruh dan kilat. Perumpamaan dari saya lebih sederhana seperti padamnya listrik di gedung tempat kita bekerja. Dari yang terang benderang tiba-tiba sangat gelap. Kita panik, apalagi saudara kita yang berada dalam lift atau di tangga, pasti lebih panik lagi. Kita masih beruntung masih ada cahaya, coba bayangkan bila kantor kita ini benar-benar gelap. Apa yang akan kita lakukan..? Menerka-nerka jalan keluar, meraba-raba kursi, meja, pintu atau anak tangga yang akan kita lalui agar kita selamat ? Atau saling bergandengan tangan agar kita lebih yakin dapat selamat menuju satu tujuan yang sama, jalan keluar ? Apa yang kita rasakan saat itu ? Kekhawatiran yang sangat, rasa takut yang tiba-tiba saja muncul atau kemarahan yang memuncak karena keterbatasan kita dalam bergerak.

Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (QS Ibrahim (14) : 1)

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya): “Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah.” Sesunguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur. (QS Ibrahim (14) : 5)

Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (QS Al Maa’idah (5) : 16)

Atau coba bayangkan kita berada di dalam gua yang sangat gelap atau tempat kita bekerja yang sangat gelap karena padamnya listrik, apakah yang terpikir oleh kita pertama kali ? Mencari cahaya bukan..? Bila ada setitik cahaya di dalam gua maka kemungkinan terbesar adalah kita akan menuju ke arah cahaya itu. Sekecil apapun sumber cahaya itu pasti kita akan sangat membutuhkannya hingga kita benar-benar tiba di tempat yang terang. Dan ketika kita sampai di tempat yang terang atau lampu-lampu dalam ruangan kantor sudah mulai menyala, apa yang kita rasakan ? Bahagia bukan ?

Contoh pertama adalah contoh kita ketika berada dalam cahaya kemudian gelap. Contoh yang kedua adalah ketika kita berada dalam kondisi gelap menuju cahaya. Telah tampaklah oleh kita perbedaan orang-orang yang berproses dari kegelapan kepada cahaya dengan orang-orang yang berproses dari cahaya menuju kegelapan. Kondisi orang yang mengarahkan dirinya menuju atau mendapatkan cahaya akan merasakan kebahagiaan yang sangat dibanding dengan orang-orang yang memadamkan cahaya atau mengalami kondisi padamnya cahaya. Mereka yang mengalami padamnya cahaya atau kegelapan setelah adanya cahaya akan merasakan kekhawatiran yang sangat, ketakutan yang mencekam, kemarahan memuncak serta akan mengalami kesulitan dalam bergerak. Bergerak harus dengan meraba, bergerak tidak leluasa dan perlahan-lahan, mungkin berjalan dan bergerak dengan bergandengan tangan atau menerka-nerka jalan. Tidak seluwes mereka yang berada dalam kondisi terang benderang. Mereka dapat berlari kencang, meloncat-loncat dan aktivitas lainnya tanpa takut terbentur atau terjatuh.

Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya: “Allah.” Katakanlah: “Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?.” Katakanlah: “Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” Katakanlah: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.” (QS Ar Ra’d (13) : 16)

Tapi mengapa kita lebih memilih menuju kegelapan dari menuju cahaya ?

Majelis

Bina Matahati

Bersama Membina Generasi Islami

%d bloggers like this: