BELAJAR TAUHID DARI ANAK-ANAK

BELAJAR TAUHID DARI ANAK-ANAK

By : Abu Zuhra

Belajar Tauhid, belajar untuk mengerti, memahami dan mempraktekkan bagaimana cara meng Esa kan Allah, mengakui bahwa Tiada Ilah selain Allah, mengakui bahwa hanya Allah lah Tuhan kita dan bagaimana sikap kita terhadap Nya. Tanpa kita sadari kita masih memiliki tuhan-tuhan yang lain. Kita masih menyembah selain Allah. Bahkan masih seringnya kita menyembah dan mempertuhankan selain Allah secara sadar. Ada yang mempertuhankan harta, ada yang mempertuhankan tahta dan pula ada yang mempertu-hankan cinta dan wanita. Atau kita memperlakukan Allah swt sekehendak hati kita, bukan sebagai Ilah, sebagai Tuhan, tapi Allah bagaikan barang yang kapan kita butuhkan baru kita keluarkan dan gunakan. Apa seperti itukah akhlaq kita kepada Sang Khaliq ?

Pernahkah kita berfikir bahwa Allah swt mengutus ”malaikat kecil” Nya kepada kita. Allah swt sangat sayang dan cinta kepada kita sehingga Allah swt selalu mengingatkan kita agar kita tetap pada jalan Nya, justru kita sendiri lah yang sering tidak memahaminya. Namun Allah swt tiada bosannya ”mengingatkan” kita tapi kita pula yang justru sering melupakan Nya.

Di mata saya, anak-anak saya adalah ”malaikat kecil” yang sengaja di utus Allah untuk mengajari saya tentang berbagai hal. Dari kesabaran, psikologi dan pendidikan anak dan yang tidak kalah penting adalah tentang Tauhid. Loh kok bisa ? Ya begitulah bila Allah ingin mengajari hamba Nya dengan mediasi (alat), cara dan methode apapun pastilah bisa dan hal yang mudah saja bagi Nya.

Inilah catatan kecil saya tentang pelajaran Tauhid yang berhasil saya pelajari dari tingkah anak-anak saya.

1. Sungguh-Sungguh dalam Meminta

Namanya juga anak-anak bila meminta sesuatu memang sangat serius, penuh kesungguhan. Anak saya yang besar, Thoriq namanya, baru 2,5 tahun usianya, bila meminta dari yang sekedar merengek-rengek, menghiba-hiba, menarik-narik kami, orangtuanya hingga bila perlu sampai menangis sejadi-jadinya. Hati orangtua yang manalah yang tidak merasa kasihan melihat anak-anak merajuk sedemikian rupa agar keinginannya terpenuhi ? Hanya saja memang kita sebagai orangtua harus pandai-pandai menata hati dan mengontrol diri kita agar kita dapat memberi yang terbaik bagi anak-anak kita tanpa memanjakan mereka.

Bahkan hingga yang masih bayi pun tidak kalah ’heboh’ nya dalam meminta. Ayesha, kini 9 bulan, bila merasa haus apalagi lapar, Masya Allah… bila tidak membangunkan orang 1 rumah (mungkin 1 komplek ?) tidak berhenti ’bernyanyi’ dengan menjeritkan tangisan. Bila apa yang dimintanya sudah diperoleh, entah itu minuman atau makanannya, atau ada yang menggendongnya, barulah Ayesha bisa diam.

Tapi alhamdulillah kedua anak saya masih mudah diberi pengertian, masih mudah diatur, masih menurut apa kata kami, orangtuanya, sehingga kami tidak merasa terbebani dengan tingkah polah mereka. Tapi bukan ini yang ingin saya bicarakan tapi lebih kepada seriusnya anak-anak dalam meminta.

Saya melihat mereka, anak-anak saya, seperti mengajari saya bahwa bila meminta dan memohon kepada Allah swt itu pun harus serius, mesti sungguh-sungguh. Kita saja manusia bila ada orang yang sungguh-sungguh dalam memohon bantuan dan pertolongan kita, kita merasa tidak tega, dan bila kita bisa membantu dengan apa saja yang kita punya atau kemampuan apa saja yang kita miliki untuk membantunya, kita pasti akan membantu orang tersebut. Apalah lagi Allah ?

Dari Salman Al-Farisy ra bahwa Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya tuhan kalian Maha Hidup ‏dan Maha Pemberi. Dia malu kepada hamba-Nya, bila hamba itu mengangkat kedua tangannya, namun mengembalikannya dengan tangan kosong.” (HR Abu Daud, Tirmizy dan Ibnu Majah)

Tapi sayangnya kita kurang serius dalam meminta, lalai dalam memohon dan tidak sungguh-sungguh dalam berdoa. Kita berdoa hanya ceremonial belaka. Berdoa hanya sebatas kata di bibir dan lisan kita. Kita tidak benar-benar meminta dan butuh bantuan dari Nya.

Mulai saat ini, berdoalah dengan sungguh-sungguh, memohonlah pertolongan Nya. Bayangkan diri kita bagaikan dalam kondisi terdesak, angkatlah kedua tangan kita meminta agar doa kita cepat dikabulkan karena Allah malu bila hamba Nya mengangkat tangan berdoa kepada Nya tidak diberi, bila perlu menangislah. Semoga dengan tangisan kita, menambah percepatan turunnya pertolongan dari Allah.

2. Sangat Bergantung dan Pasrah

Anak-anak saya masih sangat bergantung kepada kami, orang tuanya. Bila makan dan minum perlu disediakan, bahkan masih disuapi. Mandi, berpakaian, bermain, dan hampir seluruh keperluannya masih sangat bergantung kepada kami. Dan mereka pun pasrah atas apapun yang diberikan oleh kami kepada mereka. Mau kami pakaikan baju pendek atau panjang, baju baru atau lama, putih atau berwarna, mereka tidak pernah protes. Mau kami mandikan di bak mandi, di ember bak, di pancuran (kran), di kamar mandi, di luar, mereka juga menurut. Mau bedak merek apapun juga mereka tidak melawan. Mau kami ajak jalan-jalan ke Mall, ke Pasar Tradisional yang becek, ke tetangga yang rumahnya bagus, ke kenalan yang rumahnya kecil, atau tidak kemana-mana hanya diam saja di rumah, mereka, anak-anak saya tetap tidak protes apalagi demo. Mereka pasrah.. karena mereka sangat percaya kepada kami. Pasrah.. karena mereka sangat bergantung kepada kami. Pasrah.. karena mereka percaya kami pasti memberinya yang terbaik.

Seharusnya begitulah kita terhadap Allah swt. Kita seharusnya memiliki rasa sangat bergantung kepada Nya dan tentu saja Pasrah. Kita seharusnya merasa seperti bola yang dipermainkan, ditendang ke sana ke mari dari tendangan ringan hingga keras, disundul, dimainkan di tempat basah, kering atau salju sekalipun, bola akan diam saja. Karena begitulah kita, hanya sekedar makhluq.

Kita pasrah saja atas apa yang Allah kehendaki terjadi terhadap kita. Jangan bergerak sendiri sesuai keinginan kita. Ikuti saja keinginan Allah swt dengan sikap terbaik kita, karena mau tidak mau kita harus mengakui bahwa kita sangat bergantung kepada Nya.

3. Bahagia bila Dekat Orangtua dan Sedih bila Jauh

Tidak pernah kami mengajari anak-anak kami dengan senyum 227, 2 centi kiri 2 centi kanan selama 7 detik ala Ust. Jamil Azzaini. Tidak pernah pula kami mengajari anak-anak kami dengan senyum sama sisi ala ESQ. Tapi yang jelas, anak-anak kami akan tampak ceria begitu kami, orangtuanya berada di dekat mereka. Senyum yang keluar dari lubuk hati mereka terdalam tanpa paksaan atau karena aturan protokoler. Mereka sangat bahagia dan keceriaan itu tampak membuncah ketika mereka bermain-main bersama kami.

Mungkin mereka pun bahagia berada di dekat saudara-saudara atau teman-teman bermainnya. Mungkin mereka tampak ceria dan bahagia berada di dekat Pakde, Bude, Pak Lik, Bu Lik, Om, Tante, Oma, Opa, Uty, Akung, Eyang dan yang lainnya. Tapi sungguh sangat berbeda bila mereka berada bersama kami. Walau mungkin kami tidak seperti mereka, orangtua yang lain yang dapat memberikan pakaian yang bagus, mainan yang menarik dan mahal, jalan-jalan ke tempat rekreasi yang cukup mahal, menginap di resort yang mewah tapi tetap saja anak-anak kami tampak sangat bahagia. Bahkan bila kami pergi, ke kantor misalnya, mereka akan menampakkan kesedihan mereka yang sangat, dengan menangis tentunya.

Begitulah seharusnya kita terhadap Allah. Kita seharusnya bahagia ketika kita dekat dengan Nya. Kita seharusnya tenang, damai, nyaman dan hilang kekhawatiran serta ketakutan kita ketika berada di dekat Nya. Karena kita berada di dekat Yang Maha Kasih, Maha Kaya dan Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Kita seharusnya sedih ketika kita jauh dari Allah apalagi bila Allah yang menjauh dari kita. Kita seharusnya menangis. Menangis sejadi-jadinya. Tapi mengapa kita masih tertawa saat kita berbuat dosa ? Tapi mengapa kita masih bisa tersenyum ketika maksiat masih kita lakukan ? Mengapa ?

4. Takut Berbuat Salah

’Teman kecil’ kami, seperti layaknya anak-anak seusianya, memiliki keingintahuan yang sangat besar. Mereka sangat fokus dengan ’benda’ yang menjadi objek ’penelitiannya’. Entah itu topi, bola, mainan, tempat makan dan minumnya, kancing baju, buku dan majalah, apa saja pasti akan menjadi objek mereka. Ada yang masih ’selamat’ tapi tidak sedikit yang sudah sulit untuk diselamatkan. Contohnya mainan berbentuk sepeda motor, kini sudah tidak jelas lagi bentuknya.

Ketika mereka belajar turun dari tempat tidur kemudian melakukan kesalahan dan akhirnya menangis karena terjatuh dan tentu saja merasakan sakit. Mereka seperti berfikir bahwa tindakannya yang salah yang menyebabkan dirinya celaka. Belajar dari kesalahan, kami memperhatikan saat turun dari tempat tidur, mereka mengawalinya dengan kaki terlebih dahulu sambil kedua tanggannya memegang sprei dengan sangat kuat.

Saat mereka belajar berdiri dan berjalan pun, sering mereka seperti berfikir bahwa tindakan yang begini atau begitulah yang menyebabkan mereka terjatuh sehingga kemudian mereka menghindari berbuat hal itu agar mereka tidak terjatuh untuk kedua kalinya. Mereka seperti diberi ’ilham’ oleh Allah swt bahwa untuk belajar berdiri itu perlu sesuatu yang kuat dan tidak mudah goyah kala dipegang.

Begitulah mereka belajar dari kesalahan. Begitulah mereka, takut berbuat kesalahan untuk kedua kalinya. Mereka takut bila melakukan kesalahan entah karena mereka terjatuh dan sakit karena ulahnya berbuat kesalahan, entah karena di marahi atau karena ’objek penelitian’ dan ’harta benda’nya semakin berkurang karena rusak oleh ulahnya sendiri.

Berbeda dengan anak-anak, mereka berbuat kesalahan dan melakukan aktivitas yang mungkin berbahaya karena akal mereka belum bekerja maksimal. Tapi kita, apakah kita takut untuk melakukan kesalahan-kesalahan yang mungkin kita sadari ? Bahkan kesalahan-kesalahan yang sama kita lakukan berulang-ulang ? Pernahkah kita menyadarinya kemudian berhenti berbuat kesalahan dengan bertaubat ? Mungkin pernah, tapi lebih sering lagi, kesalahan yang sama, dosa yang sama kita lakukan berulang kali tanpa rasa takut akan azab Nya yang pedih. Tanpa takut bahwa kesalahan-kesalahan itu membuat diri kita sendiri sakit nantinya. Tanpa takut bahwa dosa-dosa kita itu akan menghantarkan kita kepada kemarahan Allah. Tanpa takut bahwa maksiat-maksiat yang kita lakukan itu membuat ’habis’ harta benda yang telah kita kumpulkan dengan keringat dan darah kita bertahun-tahun.

Begitulah mereka, anak-anak, saya banyak belajar dari mereka. Tulisan ini saya tutup dengan doa yang dipanjatkan oleh Nabi Sulaiman as :

“Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (QS An Naml (27) : 19)

Dedicated to :

Majelis

Bina Matahati

Bersama Membina Generasi Islami

%d bloggers like this: